Pelatihan Kebidanan Transkultural dan Negosiasi Budaya Perawatan Nifas bagi Bidan dan Penolong Persalinan Tradisional di Sulawesi
Keywords:
kearifan lokal, kebidanan transkultural, negosiasi budaya, perawatan nifas, SulawesiAbstract
Praktik budaya perawatan nifas di Sulawesi sangat memengaruhi kesehatan ibu pasca persalinan. Sebagian praktik bermanfaat, namun sebagian lain berisiko klinis seperti pantangan protein hewani, tirah baring berkepanjangan, dan pijat fundus yang tidak terstandar, sementara bidan mitra belum memiliki kompetensi negosiasi budaya untuk menanganinya secara aman. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bidan serta penolong persalinan tradisional dalam menerapkan asuhan kebidanan transkultural yang responsif budaya. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan partisipatif berbasis kasus, simulasi negosiasi budaya, serta pendampingan kemitraan bidan–dukun. Sasaran kegiatan adalah 25 bidan komunitas dan 15 penolong persalinan tradisional di tiga wilayah Sulawesi. Keberhasilan diukur melalui pre-test dan post-test pengetahuan serta lembar observasi keterampilan negosiasi budaya. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan dari 44,2% menjadi 85,8% dan keterampilan negosiasi budaya dari 28,5% menjadi 81,4%. Mayoritas peserta mampu memilah praktik budaya yang aman, berisiko, dan adaptif, serta menyusun rencana asuhan yang mengakomodasi kearifan lokal. Disimpulkan bahwa pelatihan kebidanan transkultural efektif meningkatkan kapasitas mitra dan layak diintegrasikan ke dalam protokol pelayanan nifas di Sulawesi.



